You are here
Cinta Jakarta 

Selamat Datang Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies

Seperti yang dikatakan Wittgenstein, “batas duniamu adalah batas bahasamu”. Demikian kiranya kita beranggapan pada orang atau sekelompok orang yang hanya pandai bicara di depan kaumnya sendiri tanpa berani keluar dari sarungnya. Atau kalau menurut istilah Betawinya “Jago Kandang”. Menghadapi era mondial ini tentu kiranya kita perlu pikiran yang terbuka terhadap segala hal. Bukan hanya mempertahankan kekolotan, sehingga kita bak katak dalam tempurung yang hanya mampu menjadi penonton di kampung kita sendiri. Keluar dari batas kampung, sehingga mencapai batas bahasa atau pengungkapan yang lebih luas lagi --- bahkan mungkin dunia --- itulah gambaran yang ingin disampaikan Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies (Dari Batavia sampai Jakarta).

Untuk keluar dari ‘kampung’ itu tentu bukan berarti Stamboel harus melepaskan cukin, peci atau pangsinya. Akan tetapi, justru dengan kearifan lokal tersebut Stamboel berani berbicara pada banyak lapisan masyarakat bahwa Betawi bukanlah etnis yang hanya pandai berkelakar, berbual-bual atau mengaji belaka. Namun, mampu berpikir secara kritis terhadap budayanya sendiri.

Sebagai sebuah jurnal, Stamboel tentu harus menjadi wadah bagi pengembangan kearifan lokal dengan kajian-kajian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Pada edisi pertamanya ini, Stamboel menghadirkan beberapa tulisan yang mengupas kebudayaan Betawi dari berbagai sudut pandang disiplin ilmu. Dengan mengusung tema “Selamat Datang di Gerbang” tentunya Stamboel ingin membuktikan bahwa kaum Betawi bukan masyarakat dengan budaya oral belaka. Juga memberi kesempatan pada penulis-penulis atau peneliti-peneliti muda Betawi ataupun bukan yang tertarik untuk mengkaji budaya Betawi dengan disiplin ilmu yang mereka kuasai masing-masing.

Jika menoleh ke belakang, sebenarnya masyarakat Betawi telah mengenal budaya tulis sejak lama. Di mulai dari Muhammad Bakir dan Ahmad Bramka telah memulainya dengan menulis atau menyalin beberapa naskah kuno di masa lalu. Bahkan di era 70-an, Firman Muntaco membuat bahasa Betawi dikenal oleh banyak lapisan masyarakat di Indonesia melalui sketsa-sketsa Betawinya. Jadi, tentulah salah jika kita menganggap masyarakat Betawi tidak mengenal budaya tulis. Kehadiran jurnal ini pun sekaligus membuktikan jika orang Betawi bisa menulis dan mengungkapkan pandangan mereka dengan landasan pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Akhir kata, saya ingin menjelaskan jika orang Betawi bukan hanya tukang parkir, tukang ojek, kuli cuci, ataupun kuli panggul, tetapi juga para cendekia yang memahami budaya mereka dan ingin mengembangkannya. Oleh karena itu, kita tidak perlu minder dengan budaya kita, sepertinya halnya Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies (Dari Batavia sampai Jakarta) yang dengan tegas menyatakan diri sebagai sebuah jurnal yang membahas budaya Betawi dengan wacana kekiniannya, bukan hanya mampu berkoar-koar di dalam sarungnya sendiri. Selamat datang jurnal Stamboel. (Mh Hamdan)

 

Mencos, 10 Oktober 2012

 

Catetan: Untuk PEMESANAN silakan hubungi inbox facebook Stamboel Journal  di https://www.facebook.com/stamboel.journal?fref=ts  atau fan page Stamboel Journal https://www.facebook.com/pages/Stamboel-Journal-of-Betawi-Socio-Cultural-Studies/356877844403054?fref=ts . Harga: Rp. 65.000,-  plus ongkos kirim Rp. 15.000,- (Jawa) dan Rp. 20.000,- (luar Jawa).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Related posts

Leave a Comment