You are here
pitung, jagoan betawi, betawi, cinte betawi, silat betawi, jagoan silat Kisah Sebuah Nama Kliping 

Si Pitung, Preman di Seantero Batavia

pitung, jagoan betawi, betawi, cinte betawi, silat betawi, jagoan silatSi Pitung lahir di Kampung Rawabelong dengan nama Salihoen pada akhir abad ke-19. Ia merupakan anak keempat dari pasangan Piun dan Pinah. Sejak kecil, Pitung kerap melihat centeng si tuan tanah, Liem Tjeng Soen, merampas padi dan ternak orang tuanya. Namun ketika itu ia belum mengerti soal tanah partikelir atau tuan tanah.

Dalam sirus resmi Provinsi DKI Jakarta diceritakan bahwa Pitung mendapatkan ilmu mengaji dan silat dari Haji Naipin, kiai terkemuka di Rawabelong. Kepada Pitung, Naipin memberikan ilmu Paneasona. "Sebuah ilmu bela tingkat tinggi yang membuat pemilik ilmu kebal dari benda tajam," demikian tertulis dalam situs itu.

Pitung menjadi preman setelah jengah melihat orang sekampungnya kerap ditindas Belanda dan tuan tanah. Bergabung dengan sekelompok maling insaf, Pitung merampas harta tuan tanah, penguasa pribumi, dan orang kaya yang berpihak kepada Belanda.

"Daerah pergerakan Pitung sangat luas," kata pengamat kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra, Jumat, 15 Maret 2013. "Dari daerah selatan, utara, barat, timur, bahkan Pasar Baru."

"Pada masa itu, preman muncul untuk menolong rakyat miskin," kata Yahya. "Mereka merampok harta milik tuan tanah dan Belanda untuk diberikan ke orang kampung."

Setelah Pitung tewas ditembak kontrolir Belanda, Scout Heyne, preman Betawi terus bermunculan. Ada Entong Gendut yang menguasai wilayah Condet pada abad ke-20 atau Kai'in bin Kayah di Tangerang pada 1920-an. "Sama seperti preman Betawi lainnya, Kai'in juga membela rakyat miskin," kata Yahya. "Dalam pidatonya, dia mengajak masyarakat merebut tanah dari orang kulit putih atau tuan tanah."

sumber : tempo.co

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Related posts

Leave a Comment