You are here
ismail marzuki Tokoh Betawi 

Sisi Betawi Ismail Marzuki

ismail marzuki

Ismail Marzuki merupakan putra Betawi yang lahir di Kampung Kwitang pada 11 Mei 1914 dan meninggal di Kampung Bali, Tanah Abang 25 Mei 1958 pada usia 44 tahun merupakan seorang komponis besar Indonesia yang aktif dan produktif. Lebih dari 250 karya lagu dan musik sudah diciptakan yang beberapa di antaranya masih sering dinyanyikan hingga kini.

Karya-karyanya lebih banyak bernafaskan nasionalisme dan romantisme seperti Rayuan Pulau Kelapa, Indonesia Pusaka, Juwita Malam, Aryati, Gugur Bunga, Sabda Alam, Melati di Tapal Batas (1947), Wanita, Payung Fantasi, Sepasang Mata Bola (1946), Bandung Selatan di Waktu Malam (1948), O Sarinah (1931), Keroncong Serenata, Bandaneira, Lenggang Bandung, Tinggi Gunung Seribu Janji, Bunga dari Selatan, Selamat Datang Pahlawan Muda (1949), Roselani, Rindu Lukisan.

Sebagai anak Betawi, ia tidak serta merta melupakan akar budayanya, lagu Selamat Hari Lebaran (versi asli dan panjang) boleh jadi karya semata wayang dari Ismail Marzuki yang menunjukkan sisi Betawi dari sang maestro musik sekaligus pahlawan nasional Indonesia, sepenggal syair tersebut adalah:

 

“...Akibatnya tenteng                   

selop sepatu terompe     

Kakinya pada lecet           

Babak belur berabe...” 

 

fokus syair dengan bahasa Betawi di atas adalah pada kata ‘terompe’ adalah terompah yang berarti sandal sedangkan ‘berabe’ berarti serba susah atau repot mengerjakannya (mengurusnya) atau bisa juga berarti berbahaya, celaka, tergantung dari konteks kalimat yang mengikutinya.

pada bait syair yang lain:

 

 “...maafkan lahir dan batin         

‘lan tahun hidup prihatin,             

cari wang jangan bingungin,                     

 ‘lan Syawal kita ngawinin...”  

                   

 “...pulang sempoyongan             

kalah main pukul istri                     

akibatnya sang ketupat              

melayang ke mate                          

si penjudi mateng biru    

di rangsang si istri”     

                    

 “...maafkan lahir dan batin                        

 ‘lan tahun hidup prihatin,                           

 

kondangan boleh kurangin,      

korupsi jangan kerjain...”

 

Pada syair di atas yang menjadi perhatian adalah kata “bingungin”, “ngawinin”, “kurangin” dan “kerjain”. Imbuhan -in dalam bahasa Betawi merupakan pengaruh dari bahasa Bali, imbuhan ini sepadan dengan imbuhan -i dan -kan dalam bahasa Indonesia. imbuhan -in juga sepadan dengan afiks per- dalam bahasa Indonesia. Kalau kita masukkan sesuai konteks syair, maka:

 

bingungin = membingungkan

ngawinin = mengawinkan

kurangin = dikurangi

kerjain = kerjakan

 

kata ‘mate’ yang berarti mata, kata ‘mateng’ artinya matang yang terpengaruh dialek bahasa Melayu Betawi tengah sedangkan ‘rangsang’ adalah kukusan atau panci untuk memasak nasi.

Mungkin hanya satu karya dan itu pun hanya beberapa kata yang menggunakan bahasa Betawi, namun lagu Selamat Hari Lebaran irama dan syairnya cukup mewakili Melayu Betawi dan cukup mengaktualisasikan identitasnya sebagai orang Betawi yang cinte Betawi. (CB)

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Related posts