You are here

Riwayat Jaga Monyet

Riwayat toponim Jaga Monyet berawal dari VOC yang membangun pos penjagaan pada tahun 1668 sebagai pengganti benteng atau post Risjwik dengan tujuan untuk menangkal serangan pasukan Kesultanan Banten dari arah Grogol dan Tangerang. Pada masa itu daerah ini masih sangat sepi dan masih dikelilingi hutan belantara dengan pepohonan besar. Pepohonan sekitar pos jaga tersebut merupakan habitat dari sekumpulan monyet. Monyet-monyet itu sering berkeliaran di sekitar pos jaga dan mengusik serdadu yang sedang bertugas. Karena jarangnya serangan musuh, serdadu VOC yang bertugas di pos penjagaan tersebut menjadi lebih sering menganggur, keseharian…

Read More

Ondel Ondel Raksasa Di Kemayoran

Dua patung ondel-ondel raksasa yang merupakan ikon kebudayaan Betawi dipasang di kawasan eks bandara, Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat. Pemasangan ini dilakukan dengan melibatkan sejumlah seniman dan budayawan. Jul Hendri, salah seorang seniman, mengatakan dua patung ondel-ondel yang terbuat fiber tersebut, didirikan oleh Pusat Pengelolah Komplek Kemayoran (PPKK). “Untuk satu patungnya memiliki berat 1,5 ton dan tingginya 9,5 meter,” terangnya, Kamis (19/12). Hingga saat ini, sambungnya, proses pengerjaan patung telah mencapai finishing berupa pengecatan dan di pastikan akan selesai pada akhir Desember ini. “Karena memang dari pihak pemesan memberi…

Read More

Sejarah Petojo : Tanah Panglima Perang Kerajaan Bone

Pada awal abad ke-17, wilayah Petodjo atau Petojo masih sebuah hutan belantara tanpa penghuni. Namun setelah Phoa Beng Gan (disebut juga Phoa Bing Gam) yang merupakan Kapten Tionghoa (Kapitein der Chinezen) yang juga ahli irigasi membuat kanal Molenvliet (sungai pabrik), yang menghubungkan kota lama dengan sebelah selatan, maka berdatanganlah orang-orang dari luar ke Petojo. Adapun asal usul nama Petojo memiliki dua versi, yaitu: versi pertama, menurut informasi penduduk setempat, daerah tersebut dinamakan Petojo karena dahulunya di Jalan Suryopranoto sekitar tahun 1920-an terdapat pabrik es Belanda dengan nama Petojo Ijs. Pabrik…

Read More

Betawi di Laju Zaman

Siapa yang disebut orang Betawi sekarang ini? Pertanyaan itu mengemuka dalam diskusi Menggali Mutiara Betawi yang diselenggarakan di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (14/11). Menghadapi pertanyaan semacam itu, pengamat budaya Betawi Abdul Chaer sambil berseloroh mengatakan, “Orang Betawi itu adalah orang yang kalau Lebaran tidak pulang kampung.” Saat ini, dengan bercampurnya beragam orang dengan berbagai latar belakang dalam satu wilayah serta pernikahan lintas suku, tidak mudah mendefinisikan kesejatian etnis seseorang. Abdul Chaer lantas melemparkan lelucon soal perbedaan etnis dalam pernikahan ini. “Ada orang Bali yang menikah dengan gadis Betawi. Masalah timbul…

Read More

Jakarta Gelar ‘Kampung Betawi di Kota Tua’

Pemerintah DKI Jakarta menggelar festival budaya dengan tema “Kampung Betawi di Kota Tua.” Acara yang digelar pada 16 dan 17 November 2013 ini akan menyulap wajah kawasan wisata Kota Tua, Jakarta Barat, yang kuat unsur kolonial dengan wajah Betawi. “Akan ada festival-festival kebudayaan yang menunjukan ciri khas budaya Betawi,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Daya Tarik Destinasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Ida Subaedah, di Balai Kota pada Rabu, 13 November 2013.  Acara ini akan digelar di sepanjang kali di Kota Tua karena Taman Fatahillah sedang dipugar. Ida mengatakan acara…

Read More

Budaya Betawi Di Beijing

Sebagai bagian dari tradisi tahunan, pelajar Indonesia di Beijing berpartisipasi di Festival Budaya Internasional Peking University & Renmin University dengan membuka Pojok Indonesia dan tampil di panggung dengan tarian “Lenggang Jakarta”. Tarian Lenggang Jakarta ini menampilkan kekayaan ragam budaya Betawi yang esensinya merupakan contoh akulturasi berbagai macam budaya (Jawa, Arab, Melayu, Tionghoa, Bugis, dan lainnya). Dengan koreografi yang menggabungkan gerakan gemulai tradisional dengan hentakan modern, Tari Lenggang Jakarta ini dibuka dengan barisan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) dan dilanjutkan dengan keindahan ekspresi tari Yapong, Pencak Silat Betawi, kelompok Tanjidor, tari Ronggeng…

Read More

Sejarah Ojek Motor Di Jakarta

Istilah ojek atau ojeg bermula sekitar awal dekade 60-an di daerah pinggiran Jakarta. Saat itu ada seseorang yang menggunakan motor gede dengan memboncengkan orang lain di jok belakang. Orang ini yang kemudian hilir mudik mengantar-jemput orang ke berbagai lokasi di pinggiran Jakarta. Setiap orang yang melihatnya menjulukinya dengan “naik Oto duduk ngajejek”, kemudian diakronimkan menjadi ojek. Sedangkan versi lain, “ojek” berasal dari kata “obyek”. Pada pertengahan tahun 60-an kehidupan ekonomi masyarakat di Jakarta begitu sulit. Orang tidak bisa hidup hanya mengandalkan gaji. Karena itu orang harus mempunyai sumber penghasilan yang…

Read More

Kemeriahan Lebaran Betawi 2013

Lebaran Betawi merupakan ajang komunikasi dan silaturahmi masyarakat Jakarta yang multikultur dengan masyarakat Betawi. Salah satu tujuannya, mewujudkan Jakarta sebagai kota budaya dan pusat kebudayaan nusantara. Konsep Lebaran Betawi tahun ini adalah pesta taman perkampungan betawi, dengan menonjolkan kemajemukan Jakarta. Selain menyajikan kuliner khas Betawi, tarian Betawi, tanjidor, gambang kromong, permainan tradisional, orkes sambrah, lenong hingga silat Betawi  juga dihadirkan dalam lebaran itu. Tradisi silaturahmi gaya Betawi ditunjukkan oleh perwakilan enam wilayah DKI Jakarta dengan membawa “anteran” atau “hantaran” berupa makanan khas Betawi yang kemudian  diberikan  kepada Gubernur DKI Jakarta….

Read More

Saingi Warteg, Mpok Nori Buka Rumah Makan Betawi

Saking cinta dengan tanah kelahirannya, Mpok Nori membuat rumah makan khas Betawi. Hal itu dipilih pemain Pepesan Kosong ini sebagai bentuk kepeduliannya terhadap makanan Betawi yang mulai dilupakan. Meski belum lama, namun diakui Mpok Nori, rumah makannya tersebut mendapat respon yang cukup baik dari masyarakat. “Ada rumah makan juga, namanya Restoran Norai. Belum lama kok, makanan Betawi gitu. Kalau warteg dari Tegal ada, jangan sampe betawi kehilangan dan kalah,” ujar Mpok Nori dengan logat khasnya di Rusun Petamburan, Jakarta, Ahad (25/8/2013). Beberapa menu khas Betawi menjadi menu favorit di restonya…

Read More

Desakan LKB: Raperda Pelestarian Kebudayaan Betawi Segera Disahkan

Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) mendesak Badan Legislasi Daerah (Balegda) Provinsi DKI Jakarta untuk segera mengesahkan rencana peraturan daerah (Raperda) tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi. Para wakil rakyat diminta segera memprioritaskan pembahasan raperda ini, agar sebelum berakhirnya DPRD periode 2009- 2014 sudah bisa disahkan menjadi perda. “Kita mendesak Balegda agar memprioritaskan pembahasan Raperda tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi menjadi perda. Landasan konstitusi ini sangat penting agar Pemprov dan DPRD dapat mengimplementasikan atau mengeksekusi program pelestarian dan pengembangan kebudayaan Betawi,” ujar Ketua Umum LKB H Tantang Hidayat disela-sela buka puasa bersama dengan tokoh-tokoh Betawi…

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Read More