You are here

‘Betawi Punya Maenan’ di Hari Pahlawan

Peringatan hari pahlawan biasanya diramaikan dengan festival pawai dan atribut-atribut pejuang kemerdekaan atau pakaian daerah oleh pesertanya pawainya. Namun berbeda dengan festival yang akan diselenggarakan pada 9-10 November 2013 ini, festival yang bertajuk ‘Betawi Punya Maenan’ merupakan cara dari Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) untuk memperingati hari pahlawan berupa pagelaran pencak silat Betawi. Festival yang rencananya akan diselenggarakan di lapangan Monumen Nasional ini digagas oleh DR. Eddie M. Nalapraya, seorang putra asli Betawi yang juga merupakan salah satu pembina PB IPSI, dalam video promosi yang diunggah di…

Read More

Sejarah Festival Palang Pintu Kemang

Awal tahun 1950-an, kawasan Kemang merupakan tanah perkebunan.Disini banyak dijumpai pohon Kemang (Mangifera Kemangcaecea) sehingga kemudian kawasan ini dikenal dengan sebutan itu. Tahun 1960-an, mulai berkembang permukiman yang ditinggali oleh penduduk Betawi. Selain mengolah kebun,orang-orang Betawi juga ada yang bekerja sebagai peternak dan sebagian lainnya memproduksi tahu.   Posisi Kemang yang strategis menjadi incaran orang-orang asing dan kaum ekspatriat untuk dijadikan tempat bermukim yang terjadi pada awal tahun 1970-an.Masuknya para pekerja asing itu diikuti dengan pertumbuhan layanan kebutuhan bagi mereka seperti hotel, restoran, kafe, dan tempat hiburan lainnya yang berkembang di awal…

Read More

Shohibul Hikayat “5 in 1″ Memukau Pengunjung Kampung Betawi

Pementasan kesenian yang terbilang unik mewarnai panggung hiburan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan – Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (25/5). Pembacaan cerita Shohibul Hikayat yang dibawakan budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, dalam format 5 in 1 berhasil memukau ratusan pengunjung yang hadir dalam acara bertajuk Gaul Bareng Hikayat Berpantun. Acara yang didukung penuh oleh Lembaga Kebidayaan Betawi (LKB)  bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta serta Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) DKI Jakarta  itu mengetengahkan kisah Hikayat ketiban Bulan. Dalam penyajiannya, Yahya membawakan cerita tersebut dengan format 5 in 1…

Read More

Silat Beksi : Sejarah Pendiri dan Tiga Guru Besar Beksi Betawi

Muasal silat beksi berawal dari seni beladiri yang dibawa oleh Lie Ceng Oek, seorang pendekar shaolin dari Negeri Tiongkok bagian utara. Beliau diakui bersama sebagai guru besar yang pertama di Indonesia tepatnya di wilayah Tangerang dan Jakarta yang daerahnya dihuni oleh komunitas masyarakat etnis Betawi. Di Tanah Betawi,ilmu beladiri ini selain diturunkan ke anaknya Lie Tong San, dan cucunya, Lie Gie Tong.  Lie Ceng Oek juga menurunkan ilmunya kepada muridnya yang bernama Ki Marhali. Ki Marhali menjadi murid Lie Ceng Oek berawal dari adanya perselisihan antara Lie Ceng Oek dengan…

Read More

Serba-serbi Betawi Meriahkan HUT DKI ke-486

HUT DKI ke-486 Juni mendatang dipastikan akan berlangsung meriah. Kemeriahan tersebut tak lain karena Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) yang selama ini konsen dengan pelestarian budaya Betawi juga telah mencanangkan satu gebrakan baru bertajuk, Citi Cinte Betawi yang akan mengenalkan sejumlah kesenian dan budaya asli Betawi mulai dari pencak silat, tari, batik Betawi, hingga gambang kromong. Dalam event yang akan digelar 15 Juni tersebut, LKB menggaet salah satu bank asing di Indonesia untuk ikut terlibat langsung. Hal ini dilakukan untuk mengenalkan seni budaya Betawi kepada lingkup yang lebih luas. Ketua Umum…

Read More

Haji Darip bin Haji Kurdin, Panglima Perang dari Klender

Haji Mohammad Arif atau Haji Darip merupakan putra asli Betawi kelahiran tahun 1886 di Kampung Jatinegara Kaum dari pasangan Haji Kurdin dan Haji Nyai, anak ketiga dari tiga bersaudara. Hanya menempuh pendidikan nonformal belajar ngaji di kampung, di antaranya dari gurunya Haji Gayor di Klender. Pelajaran membaca dan menulis huruf latin justru diperolehnya saat di penjara dan belajar dari temannya. Tahun 1914-1919 ia dikirim orang tuanya untuk belajar agama Islam di Mekah. Pulang dari Mekah, ia menikah dengan gadis pilihan orang tuanya dan dikaruniai seorang anak. Saat anaknya berumur 2…

Read More

Si Pitung, Preman di Seantero Batavia

Si Pitung lahir di Kampung Rawabelong dengan nama Salihoen pada akhir abad ke-19. Ia merupakan anak keempat dari pasangan Piun dan Pinah. Sejak kecil, Pitung kerap melihat centeng si tuan tanah, Liem Tjeng Soen, merampas padi dan ternak orang tuanya. Namun ketika itu ia belum mengerti soal tanah partikelir atau tuan tanah. Dalam sirus resmi Provinsi DKI Jakarta diceritakan bahwa Pitung mendapatkan ilmu mengaji dan silat dari Haji Naipin, kiai terkemuka di Rawabelong. Kepada Pitung, Naipin memberikan ilmu Paneasona. “Sebuah ilmu bela tingkat tinggi yang membuat pemilik ilmu kebal dari…

Read More

Kampung Setu Babakan Menuju Pusat Kebudayaan Betawi

Daerah Setu Babakan di kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan sejak tahun 2000 telah ditata dan ditetapkan Pemerintah DKI Jakarta sebagai tempat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi secara berkesinambungan. Terletak di lahan seluas 289 hektare, area ini mencakup empat rukun warga (RW) dan 50 rukun tetangga (RT). Bagian inti Perkampungan Budaya Betawi ini memiliki luas 4.000 meter. Di dalamnya terdapat teater terbuka yang biasanya digunakan untuk menggelar pertunjukan seni budaya. Juga ada rumah Betawi, mushala, dan wisma yang dapat digunakan untuk menggelar acara. Sayangnya, karena rumah Betawi yang ada di sini adalah…

Read More

Pagelaran Silat di Bawah Rinai Hujan

Tanah Baru, Depok, 25 November 2012, minggu menyambut sinar mentari selepas hujan semalam yang membuat kaku tubuh dan enggan beraktivitas. Empat anak muda sudah terbangun sejak jam lima pagi. Mereka memulai hari dengan kesibukan yang tidak biasa. Menyiapkan sound sistem, kursi-kursi dan perlengkapan lainnya untuk acara pukul sembilan nanti di Lapangan Pipa Gas Pertamina, Jalan Kramat, Tanah Baru, Beji, Depok. Bahkan sarapan pun mereka belum sempat. Ya, keempat anak muda yang peduli dengan budaya lokal mereka – sehingga membuat Oenti Project untuk mewadahi kecintaan mereka akan budaya Betawi itu –…

Read More

Pencak Silat, Nilai Kesabaran yang Terlupakan

{Pegelaran Seni Budaya Betawi Bareng Silat Cingkrik Goning}   Silat sebagai seni beladiri asli negeri ini tentu mempunyai filosofi tersendiri. Secara sederhana kita hanya mengenal silat sebagai sarana untuk menjaga diri kita dari serangan lawan dalam sebuah perkelahian yang terpaksa kita hadapi. Selama ini kita hanya mengenal silat hanyalah sebatas hal di atas tersebut. Sebenarnya setiap seni budaya punya filosofinya tersendiri. Jadi alangkah lebih baik kita juga berusaha untuk mengetahui nilai-nilai yang dikandung oleh seni budaya kita. Jika mengamati secara seksama, gerakan silat biasanya dilakukan atas dasar untuk melindungi atau…

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Read More