Menghidupkan Kesenian Betawi di Tepian Ciliwung

Angin semilir berembus menggoyang lembut pucuk-pucuk ranting pada pepohonan yang tumbuh rindang. Di bawah sana, beberapa anak laki-laki bercelana pendek melompat ke Sungai Ciliwung seperti itik yang rindu air. Menjelang sore hari, ketika azan Ashar sayup-sayup terdengar, lima sampai sepuluh orang yang duduk santai di bawah pohon mulaimembagi-bagi kertas naskah. Disusul datang Bang Oji, salah seorang pemain lenong dan drama, dan keriuhan pun pecah. “Wah Bang, kemane aje? Diomongin dulu nih pembagian perannya. Gimana mustinya nih tiap dialog,” kata salah seorang berseru. Bang Oji yang tak hanya pandai bermain lenong…

Read More

Jodoh dan Duduk Depan Pintu

Kalo puase jangan makan pete. Mulut bau ditinggal kekasih. Eh pembaca yang tercinte. Si tukang cerite nongol lagi nih. Ketemu lagi nih ama aye. Kali eni aye mau cerita soal jodoh. Nah, buat yang masih belon dapet jodoh, boleh deh mampir ke mari. Kali aje ade jodohnye. Ngomong-ngomong, aye juga lagi nyari jodoh nih. Ade enggak ye gadis berkerudung yang mau ama aye…hehe… Kok jadi ngelantur ye. Balik ke cerite lagi deh. Eni masih soal Kong Mawi, tapi bukan mau nyariin jodoh buat Kong Mawi loh. Biar pegimane Kong Mawi…

Read More

Selamat Datang Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies

Seperti yang dikatakan Wittgenstein, “batas duniamu adalah batas bahasamu”. Demikian kiranya kita beranggapan pada orang atau sekelompok orang yang hanya pandai bicara di depan kaumnya sendiri tanpa berani keluar dari sarungnya. Atau kalau menurut istilah Betawinya “Jago Kandang”. Menghadapi era mondial ini tentu kiranya kita perlu pikiran yang terbuka terhadap segala hal. Bukan hanya mempertahankan kekolotan, sehingga kita bak katak dalam tempurung yang hanya mampu menjadi penonton di kampung kita sendiri. Keluar dari batas kampung, sehingga mencapai batas bahasa atau pengungkapan yang lebih luas lagi — bahkan mungkin dunia —…

Read More

Tawuran Kok Kampungan

Siapa bilang perilaku tawuran itu kampungan. Kalau melihat konteks kata ‘kampung’ sekarang ini justru sudah tidak layak jika dimaknai sebagai terbelakang atau tidak beretika. Justru perilaku tawuran pelajar sekarang ini lebih banyak dipengaruhi dari budaya modern yang banyak dikenal anak-anak muda dari media-media kita, seperti televisi ataupun internet. Benarkah Kampungan? “Pelajar-pelajar yang tawuran kemarin itu kampungan banget deh,” kata kawan saya menanggapi peristiwa perkelahian pelajar di Manggarai yang menimbulkan korban meninggal dunia tersebut. Saya hanya tersenyum dengan pendapat kawan tersebut. Alawy yang menjadi korban perkelahian antara SMA 6 dengan SMA…

Read More

Calo Tiket Bioskop Riwayatmu Kini

Malem minggu, aye pergi ke bioskop… Bergandengan, ame pacar nonton koboi… Beli karcis, tau tau keabisan… Jaga gengsi, terpakse beli catutan…   Demikian bait lagu Benyamin S yang dipakai sebagai latar buat iklan sebuah sinetron yang akan tayang di RCTI. Dalam iklan sinetron tersebut pun terlihat sepasang kekasih yang kehabisan tiket bioskop dan didatangi seorang calo tiket bioskop yang menawarkan karcis bioskop. Nah, di sini menarikanya. Jika latar peristiwa dalam iklan tersebut pas di zaman lagu “Nonton Bioskop” itu lagi ngehits mungkin enggak aneh. Namun, kalau latarnya zaman sekarang mah…

Read More

Pilihlah Bukan Karena Kumis atau Kotak-kotak

Mentari masih mencorong di langit Jakarta. Panas. Bahkan akan bertambah terik karena putaran kedua Pemilihan Gubernbur DKI Jakarta telah dimulai. Perang strategi dan adu siasat bahkan telah dimulai sebelum putaran kedua ini dimulai. Dan masyarakat Jakarta akan segera menentukan pilihan mereka pada 20 September 2012 nanti. Fauzi Bowo atau Joko Widodo yang akan memimpin tampuk pemerintahan Ibu Kota Indonesia.

Read More

Sabtu Siang Menunggu Bus Transjakarta

Jakarta, 8 September 2012 — Tengah hari bolong. Saya baru saja mau naik bus Transjakarta di halte Kuningan Madya. Namun, bus tersebut hanya diam di depan halte. Mogok rupanya. Seorang petugas menyarankan kami, “Ibu, bapak, maaf busnya mogok. Sebaiknya naik bus yang ke arah dukuh atas dan naik bus di halte Setiabudi.” Tetapi sesampai di halte tersebut kami melihat bus trasjakarta keluar jalur busway dan tidak berhenti di halte itu. Tentu kami kecewa. Pak Amin (37) yang bersama keluarganya sengaja naik bus Transjakarta karena ingin liburan ke Kebun Bintang Ragunan…

Read More

Cerita Lisan Si Entong dan Orang Betawi yang ‘Dipandirkan’ di Televisi

 Muhammad Hamdan* Preambul Banyak tradisi lisan kita kini sudah mulai tidak dikenal lagi oleh masyarakat. Padahal bentuk ini — dipandang secara antropologis — dibentuk oleh tradisi masyarakat. Salah satunya adalah sastra lisan. Sastra lisan adalah sastra yang muncul dalam bentuk lisan atau menurut Francis Le yang dikutip oleh Dandes (1965:9) sastra lisan disebut literature transmitted orally atau unwritten literature yang lebih dikenal dengan istilah folklore. Foklor adalah kebudayaan kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja,secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk tulisan…

Read More

Jakarta dan Pendatang

Jakarta – Terik memayungi kota. Terminal Kampung Rambutan ramai oleh manusia yang baru saja kembali dari kampung halaman mereka seusai merayakan Idul Fitri. Sedang aku baru saja selesai membaca berita tentang pendatang yang menyerbu Jakarta di sebuah media online melalui blackberryku ketika seorang pria menghampiriku. Memang, selain macet pendatang yang membanjiri ibu kota pasca Lebaran sering membuat Pemda DKI Jakarta pusing. Mungkin termasuk orang yang baru turun dari bus dan sedang di hadapanku ini. Lelah masih menempel di parasnya. Perjalanan panjang dan kemacetan panjang arus balik pasti telah membuatnya letih.…

Read More

Menikmati Macet

Sepekan setelah Lebaran. Manusia-manusia kota telah kembali setelah sesaat menikmati kenangan masa kecil, bersilaturahim dengan orang tua dan sanak kerabat di kampung mereka masing-masing. Kembali berjibaku dengan kehidupan Jakarta yang menuntut perjuangan ekstra keras untuk mengais rejeki demi kehidupan mereka. Menjadi manusia kota seutuhnya yang tidak mengenal istilah santai selain kerja keras. Sunyi selama hari raya belakangan ini pun segera berlalu. Lancar lalu lintas lekas menghilang. Segar dan bersih udara kota pun raib dirangkul polusi dari kendaraan bermotor. Kembali pada rutinitas kota yang penuh dengan hiruk pikuk yang nyaris tak…

Read More